
Invalid Date
Dilihat 14 kali

Dari Pantai Tebamba, perahu itu telah lama menghilang.
Pria tua yang dahulu berdiri di pinggir pantai masih menyimpan pandangannya ke laut.
Ia tidak mengejar perahu.
Ia tahu, setiap perahu memiliki waktunya sendiri untuk meninggalkan pantai.
Hari berganti hari.
Ombak datang dan kembali.
Jejak kaki di pasir hilang ditelan pasang.
Tetapi lelaki tua itu tetap sesekali datang ke tempat yang sama.
Ia menatap cakrawala, seolah-olah masih dapat melihat perahu yang telah lama meninggalkan Pantai Tebamba.
Sementara jauh di tengah lautan, perahu itu masih berlayar.
Namun tidak lagi dengan banyak pendayung seperti ketika pertama kali meninggalkan pantai.
Satu demi satu bangku kosong.
Dayung yang dahulu berbaris kini banyak yang tergeletak.
Yang tersisa hanya beberapa tangan.
Mereka tidak lagi mendayung untuk mengejar kecepatan.
Mereka mendayung agar perahu tetap hidup.
Di tengah perjalanan itulah sebuah pulau muncul.
Kecil.
Sepi.
Seperti noktah yang tersesat di tengah birunya laut.
Di tengah pulau itu berdiri sebuah menara yang tinggi menjulang.
Putih.
Bersih.
Angkuh dalam keheningannya.
Menara Gading.
Dari puncaknya, hampir seluruh lautan dapat dilihat.
Perahu-perahu yang melintas tampak kecil.
Ombak tampak seperti garis-garis tipis.
Angin dapat dibaca dari gerakan awan.
Arah dapat dihitung.
Jarak dapat diperkirakan.
Dari sana, laut tampak seperti halaman buku yang terbuka lebar.
Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat dibaca dari ketinggian.
Rasa asin yang menempel di kulit.
Tangan yang melepuh.
Punggung yang pegal.
Lambung perahu yang bocor.
Dan ketakutan ketika ombak datang tanpa mengetuk.
Menara dapat melihat perahu.
Tetapi perahu merasakan laut.
Menara dapat menghitung jarak.
Tetapi pendayung merasakan setiap jengkal perjalanan.
Menara dapat menghitung berapa dayung yang seharusnya bekerja.
Tetapi hanya perahu yang tahu bagaimana rasanya ketika sebagian besar dayung telah berhenti bergerak.
Mungkin itulah sebabnya Menara Gading mulai merasa bahwa ia memahami perahu.
Ia melihat dari atas.
Ia mencatat.
Ia mengukur.
Ia membandingkan.
Ia membuat kesimpulan.
Dan karena ia mampu melihat banyak hal sekaligus, ia perlahan lupa bahwa melihat banyak hal tidak selalu berarti memahami semuanya.
Menara memiliki banyak jendela.
Tetapi sedikit pintu.
Ia senang melihat ke bawah.
Tidak selalu bersedia turun.
Ia senang berbicara tentang laut.
Tetapi tidak pernah benar-benar basah.
Ia senang membicarakan dayung.
Tetapi tidak pernah merasakan beratnya ketika hanya beberapa tangan yang tersisa.
Para pendayung tidak membenci menara.
Mereka tahu, dari sana ada pengetahuan yang bisa berguna.
Ada peta.
Ada catatan.
Ada perhitungan.
Ada pengalaman dari pelayaran-pelayaran sebelumnya.
Semua itu diperlukan.
Sebab keberanian tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi kecerobohan.
Praktik tanpa pertimbangan dapat membuat tenaga habis sebelum tujuan tercapai.
Karena itu, teori tetap mereka butuhkan.
Teori adalah obat penenang bagi praktik yang terlalu serampangan.
Ia menahan tangan yang terlalu cepat.
Ia menenangkan pikiran yang terlalu berani.
Ia mengajarkan bahwa tidak semua ombak harus dilawan dengan tenaga.
Tetapi obat penenang tidak boleh membuat orang tertidur ketika perahu sedang bergerak.
Sebab pada akhirnya—
satu ton teori tidak akan menggerakkan perahu jika tidak ada satu dayung yang menyentuh air.
Satu ons praktik yang benar dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan seribu halaman teori.
Ia mengubah arah.
Ia mengurangi jarak.
Ia membuat sesuatu benar-benar terjadi.
Namun praktik pun bukan tanpa bahaya.
Pendayung yang terlalu percaya pada tangannya sendiri dapat lupa bahwa laut tidak pernah sama.
Pengalaman dapat berubah menjadi kesombongan.
Kebiasaan dapat berubah menjadi keyakinan.
Dan keyakinan yang tidak pernah diuji dapat membawa perahu ke tempat yang salah.
Maka para pendayung belajar:
teori harus cukup dekat untuk menyentuh praktik, dan praktik harus cukup rendah hati untuk mendengarkan teori.
Tetapi Menara Gading belum memahami itu.
Ia mulai mengira bahwa karena ia mampu melihat seluruh lautan, maka ia berhak menentukan bagaimana setiap perahu harus mengarunginya.
Ia mulai lupa bahwa peta bukanlah laut.
Bahwa garis pada kertas tidak pernah merasakan ombak.
Bahwa angka tidak pernah kelelahan.
Bahwa rumus tidak pernah haus.
Dan bahwa keputusan yang terlihat sederhana dari atas dapat menjadi sangat berat ketika harus dijalankan oleh tangan yang tinggal beberapa.
Suatu hari, Menara mengirimkan cahaya.
Satu kedipan.
Dua kedipan.
Tiga.
Sebuah tanda untuk mengubah arah.
Para pendayung melihatnya.
Mereka membuka peta.
Arah itu masuk akal.
Perhitungannya benar.
Teorinya sempurna.
Tetapi laut di depan mereka berkata lain.
Arus bergerak berlawanan.
Angin berubah.
Ombak mulai meninggi.
Seorang pendayung berkata,
“Kalau kita ikuti arah itu, kita akan masuk ke arus besar.”
Yang lain menjawab,
“Tapi itu petunjuk dari Menara.”
“Lalu apakah laut harus mengikuti Menara?”
Pertanyaan itu membuat perahu sunyi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Sebab untuk pertama kalinya mereka merasakan sesuatu yang lebih berat daripada dayung.
keraguan terhadap sesuatu yang selama ini mereka anggap sebagai arah.
Di kejauhan, Menara Gading tetap berdiri.
Tidak bergerak.
Tidak goyah.
Cahayanya tetap berkedip.
Seolah-olah laut harus tunduk kepada apa yang terlihat dari puncaknya.
Para pendayung akhirnya memilih.
Mereka tidak menolak peta.
Mereka juga tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepada cahaya.
Mereka membaca peta.
Kemudian membaca laut.
Mereka mempertimbangkan teori.
Kemudian mengujinya dengan praktik.
Dan perlahan mereka menyadari:
bukan teori yang salah karena berada di atas menara.
Yang salah adalah ketika teori tidak lagi bersedia dikoreksi oleh kenyataan.
Di tempat lain, jauh di Pantai Tebamba, pria tua itu masih berdiri.
Ia memandang laut.
Entah bagaimana, ia seperti mengetahui bahwa perjalanan perahu tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan pantai.
Sebab laut selalu menyimpan pelajaran baru.
Ia tersenyum kecil.
Kemudian berkata kepada dirinya sendiri,
“Perahu yang terlalu percaya pada tangannya bisa tersesat.”
Ia menatap cakrawala.
“Perahu yang terlalu percaya pada menara juga bisa karam.”
Lelaki tua itu lalu memungut sepotong kayu yang terdampar di pasir.
Ia memandangnya sebentar.
“Yang dibutuhkan bukan memilih antara tangan dan pikiran.”
Ia melemparkan kayu itu kembali ke laut.
“Yang dibutuhkan adalah tahu kapan harus menggunakan keduanya.”
Sementara itu, jauh di tengah laut, para pendayung kembali mengangkat dayung.
Jumlah mereka sedikit.
Tenaga mereka terbatas.
Perahu bergerak.
Menara tetap berdiri.
Dan Pantai Tebamba semakin jauh di belakang.
Namun tanpa diketahui para pendayung, konflik terbesar dengan Menara Gading belum dimulai.
Sebab Menara tidak menyukai satu hal:
perahu yang mulai belajar menentukan arah dengan matanya sendiri.
Bersambung..
_NN
Bagikan:

Desa Sabang
Kecamatan Dampelas
Kabupaten Donggala
Provinsi Sulawesi Tengah
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini