
Invalid Date
Dilihat 34 kali

Ia adalah orang yang sejak awal menyaksikan perahu itu meninggalkan tepian.
Pagi ketika perjalanan dimulai, ia sudah berada di sana. Dari bawah bayang-bayang pohon, matanya mengikuti perahu yang perlahan menjauh. Suara dayung terdengar beberapa kali, lalu ditelan jarak.
Ia tidak banyak berkata.
Baginya, sebuah perahu yang berangkat selalu membawa lebih dari sekadar manusia dan muatan. Ada harapan, kepentingan, keyakinan, janji, dan hal-hal yang belum sempat diberi nama.
Ia pernah berada di dalam perahu seperti itu.
Bahkan terlalu sering.
Sejak muda, hidupnya dihabiskan di antara pasir, tali, jala, dayung, dan bau asin yang melekat pada kulit. Ia pernah menarik jala sebelum matahari terbit, menembus angin yang berubah, dan menggenggam tali ketika badai datang.
Kini tubuhnya telah banyak kehilangan kekuatan. Punggungnya sedikit membungkuk. Kulitnya menghitam oleh matahari. Kerutan memenuhi wajah, rambut hampir seluruhnya putih, dan janggut tipis tumbuh tak beraturan.
Tangannya kurus, dipenuhi urat dan bekas luka kecil—bekas tali, jala, dan dayung yang pernah lama berada dalam genggaman.
Hanya matanya yang belum berubah.
Mata yang terlalu lama mengenal laut.
Dari tempat itu, ia masih mengingat bagaimana perahu tersebut pertama kali bergerak. Mula-mula perlahan, lalu semakin jauh, hingga batas antara perahu dan laut sulit dibedakan.
Hari itu laut masih bersahabat.
Tetapi lelaki tua itu tahu, laut tidak pernah memberikan seluruh jawabannya pada awal perjalanan.
Ia hanya membiarkan seseorang berangkat.
Selebihnya, waktu yang membuka cerita.
Kini perahu itu telah jauh dari pandangan.
Yang tersisa hanya ingatan dan dugaan tentang apa yang mungkin terjadi di atas laut sana.
Ingatan itu membawanya kepada banyak perjalanan yang pernah dilalui. Wajah-wajah yang berangkat dengan keyakinan, tetapi pulang dengan pandangan berbeda. Orang yang tetap menggenggam dayung ketika tangan lecet. Orang yang pergi ketika perjalanan tidak lagi sesuai harapan. Orang yang menjauh ketika badai datang, lalu kembali ketika langit mulai terang.
Dari sanalah ia memahami:
watak manusia jarang terlihat ketika laut sedang tenang.
Ketika perjalanan mudah, banyak tangan terulur. Ketika hasil masih terlihat, beban terasa ringan.
Namun ketika gelombang meninggi, sesuatu yang tersembunyi mulai muncul.
Ada yang tetap menggenggam dayung.
Ada yang pergi karena kecewa.
Ada yang pergi karena marah.
Ada yang pergi karena sejak awal bukan itu perjalanan yang dipilihnya.
Ada yang bertahan karena percaya. Ada pula yang bertahan karena masih ada sesuatu yang tidak sanggup ditinggalkan.
Ada yang mengambil jarak ketika risiko mendekat—tidak cukup dekat untuk ikut terseret, tetapi tidak cukup jauh untuk kehilangan pandangan.
Ada yang menunggu sampai arah angin lebih jelas sebelum menentukan langkah.
Dari tepian, sulit membedakan kehati-hatian dengan penantian agar keadaan berpihak.
Lelaki tua itu tidak tergesa memberi nama.
Tidak semua yang pergi harus dipersalahkan.
Tidak semua yang tinggal harus dipuji.
Yang pergi mungkin sedang mengikuti jalan yang dipilihnya. Yang tinggal mungkin sedang memikul sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Yang menjaga jarak mungkin sedang menghitung kemampuan diri.
Dan yang berada di tepian mungkin hanya menunggu untuk mengetahui apakah perjalanan itu layak didekati.
Tidak semua yang berada di tepian ingin melihat perahu karam.
Tetapi tidak semua pula bersedia ikut basah ketika perahu mulai bocor.
Barangkali manusia memang seperti itu.
Ada yang datang ketika layar mengembang.
Ada yang menghilang ketika muatan berkurang.
Ada yang baru menyebut perjalanan sebagai miliknya ketika perahu telah sampai membawa hasil.
Masalah tidak selalu mengubah manusia.
Kadang masalah hanya menyingkap apa yang selama ini tertutup oleh keadaan yang baik.
Saat hasil datang, keberhasilan mudah memiliki banyak nama.
Saat perahu oleng, nama-nama itu perlahan menghilang.
Ada yang menarik tali.
Ada yang menimba air.
Ada yang memperbaiki retakan.
Ada yang mencari daratan.
Ada yang menunggu.
Dan ada yang baru mendekat ketika laut kembali bersahabat.
Keuntungan mudah dibagi menjadi kebanggaan bersama. Kegagalan mudah dicari pemiliknya.
Lelaki tua itu pernah melihat hal serupa. Ketika layar mengembang, banyak wajah menatap ke arah yang sama. Ketika angin berubah, pandangan mulai mencari siapa yang harus disalahkan.
Tali yang putus.
Kemudi yang terlambat diputar.
Layar yang salah dibentangkan.
Dayung yang tidak serempak.
Semua dapat menjadi alasan.
Jarang yang bertanya apakah sejak awal semua tangan benar-benar bekerja menuju arah yang sama.
Sebab sebuah perahu tidak karam hanya karena lautnya dalam.
Kadang ia karam karena orang-orang di dalamnya terlalu sibuk menentukan siapa yang paling benar, hingga lupa bahwa yang dipertaruhkan bukan nama, jabatan, atau harga diri.
Melainkan perahu yang membawa semuanya.
Perahu tidak mengenal siapa yang paling banyak bicara.
Ia hanya mengenal keseimbangan.
Terlalu banyak beban di satu sisi membuatnya miring.
Terlalu banyak tangan menarik ke arah berbeda membuat kemudi kehilangan makna.
Dan terlalu banyak yang menunggu arah angin sebelum mendayung dapat menghentikan perjalanan tanpa badai yang besar.
Lelaki tua itu kembali memandang cakrawala.
Perahu telah lama hilang dari pandangan.
Namun perjalanan masih berlangsung.
Entah dengan dayung yang tetap bergerak, layar yang mulai robek, atau arah yang perlahan berubah.
Setiap orang di dalamnya membawa sesuatu yang tidak terlihat dari tepian:
keberanian, ketakutan, tanggung jawab, kesetiaan, kekecewaan, kepentingan, dan mungkin arah yang sejak awal belum pernah diucapkan.
Ia telah cukup lama mengenal manusia untuk tahu:
tidak semua yang pergi benar-benar meninggalkan.
Tidak semua yang tinggal benar-benar bertahan.
Tidak semua yang mendekat datang untuk membantu.
Tidak semua yang menjauh datang untuk meninggalkan.
Laut pun demikian.
Ia tidak pernah menjelaskan arusnya.
Ia hanya membawa, lalu mengembalikan.
Kadang dengan muatan utuh.
Kadang dengan sesuatu yang hilang.
Kadang dengan manusia yang sudah tidak sama seperti ketika pertama berangkat.
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
Sebuah perahu bukan hanya kayu, tali, layar, dan dayung.
Ia adalah kumpulan manusia dengan watak yang berbeda-beda.
Ada yang mendayung karena percaya.
Ada yang karena tanggung jawab.
Ada yang berhenti karena kecewa.
ada yang menjauh karena takut.
Ada yang menjauh karena sejak awal bukan pilihannya.
Ada yang menunggu.
Dan ada yang datang ketika perjalanan mulai terlihat menjanjikan.
Semua berada di atas laut yang sama.
Tetapi tidak semuanya membawa tujuan yang sama.
Mungkin itulah yang membuat perjalanan menjadi berat.
Bukan hanya karena laut.
Melainkan karena setiap orang membawa lautnya sendiri di dalam hati.
Cakrawala tetap membentang tanpa jawaban.
Dalam ingatannya, suara dayung masih terdengar.
Satu hentakan.
Lalu satu lagi.
Kadang berirama.
Kadang tidak.
Dan di antara suara-suara itu, selalu ada sesuatu yang tidak terlihat:
arah.
Sebab semuanya baru terbaca ketika gelombang datang.
Bukan ketika perahu berangkat.
Melainkan ketika perjalanan mulai terasa berat.
Bersambung...
-NN
Bagikan:

Desa Sabang
Kecamatan Dampelas
Kabupaten Donggala
Provinsi Sulawesi Tengah
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini