
Invalid Date
Dilihat 76 kali

Matahari mulai condong ke ujung tanjung ketika perahu itu meninggalkan Pantai Tebamba.
Di bawah pohon buton, seorang lelaki tua duduk dengan kedua tangan bertumpu pada tongkatnya.
Rambutnya telah memutih.
Kulit wajahnya mengeras oleh matahari dan angin laut.
Ia sudah terlalu lama tinggal di dekat laut untuk percaya bahwa air selalu tenang.
Di hadapannya, beberapa orang mendorong sebuah perahu ke air.
Tak ada suara mesin.
Hanya gesekan lambung dengan pasir.
Lalu air.
Kemudian dayung.
Cebur.
Perahu bergerak.
Lelaki tua itu tidak berdiri.
Ia hanya mengikuti perahu dengan matanya.
Perahu itu dibangun oleh banyak tangan.
Kayu datang sedikit demi sedikit.
Ada yang membawa.
Ada yang memotong.
Ada yang memahat.
Ada yang mengikat.
Ada yang memaku.
Ada pula yang hanya datang ketika pekerjaan hampir selesai.
Lelaki tua itu melihat semuanya.
Ia tahu, sejak kayu pertama diletakkan di pasir, perahu itu sudah membawa lebih dari sekadar kayu.
Ia membawa harapan.
Membawa pendapat.
Membawa keraguan.
Membawa orang-orang yang mau bekerja.
Dan orang-orang yang lebih suka menunggu.
Ketika perahu didorong ke laut, lelaki tua itu melihat beberapa orang yang sejak awal ikut membuatnya naik ke atas.
Yang lain tetap di pantai.
Tidak ada yang melarang.
Tidak ada yang memaksa.
Mereka berdiri sambil melihat.
Salah seorang berkata,
“Semoga dapat banyak.”
Lelaki tua itu mendengar.
Ia tidak menjawab.
Ia hanya menatap dayung yang mulai bergerak.
Perahu semakin jauh.
Pantai semakin kecil.
Dayung-dayung jatuh ke air.
Cebur.
Angkat.
Cebur.
Angkat.
Pada awalnya iramanya hampir sama.
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
Namun beberapa saat kemudian, perahu mulai berbelok.
Satu pendayung terlalu cepat.
Yang lain terlalu lambat.
Sebagian mendayung ke kiri.
Sebagian ke kanan.
Perahu berputar sedikit.
Lelaki tua itu menundukkan kepala.
Bukan karena terkejut.
Seolah ia pernah melihat pemandangan seperti itu berkali-kali.
Di pantai, orang-orang mulai berbicara.
“Kenapa berbelok?”
“Pendayungnya tidak kompak.”
“Seharusnya yang di depan yang menentukan.”
“Seharusnya yang belakang.”
Lelaki tua tetap diam.
Ia mengambil segenggam pasir.
Membiarkannya jatuh perlahan di antara jari-jarinya.
Kemudian berkata pelan, hampir kepada dirinya sendiri,
“Perahu tidak pernah tahu siapa yang paling benar.”
Tidak ada yang menjawab.
Ia melanjutkan,
“Perahu hanya tahu ke mana dayung membawanya.”
Angin mulai berubah.
Perahu terdorong sedikit ke samping.
Pendayung memperbaiki arah.
Yang satu mengurangi tenaga.
Yang lain menambah.
Mereka kembali bergerak.
Lelaki tua memperhatikan.
Ia tahu laut tidak sedang marah.
Laut hanya sedang menjadi laut.
Beberapa orang di pantai mulai pulang.
Sebagian tetap tinggal.
Mereka menunggu.
Ada yang berharap perahu kembali membawa banyak ikan.
Ada yang hanya ingin melihat hasil.
Ada pula yang sejak awal tidak percaya perahu itu akan bertahan.
Lelaki tua melihat mereka satu per satu.
Kemudian kembali memandang laut.
Ia tidak menyukai orang yang terlalu cepat menilai sebuah perjalanan dari tempat mereka tidak ikut berlayar.
Tetapi ia juga tahu:
pantai memang selalu mudah untuk berbicara.
Laut berbeda.
Di laut, setiap kata harus dibayar dengan tenaga.
Perahu terus bergerak.
Setengah perjalanan telah dilalui.
Tangan mulai berat.
Bahu mulai terasa panas.
Salah seorang pendayung berhenti sebentar.
Dayungnya diletakkan di atas lambung.
Pendayung di sebelahnya memperpanjang kayuhan.
Yang lain mengikuti.
Perahu tetap bergerak.
Lelaki tua mengangguk kecil.
Ia tahu satu hal:
tidak semua orang akan selalu kuat.
Yang membuat perjalanan tetap berjalan bukan karena semua tangan tidak pernah lelah.
Melainkan karena ketika satu tangan berhenti, untuk beristirahat
ada tangan lain yang bersedia melanjutkan.
Matahari semakin rendah.
Cahaya keemasan menyentuh laut.
Perahu menjadi bayangan kecil.
Lelaki tua bangkit perlahan dari bawah pohon buton.
Ia mengambil tongkatnya.
Sebelum meninggalkan pantai, ia melihat sekali lagi ke arah perahu.
Perahu masih mengapung.
Masih bergerak.
Belum sampai.
Belum pula kembali.
Ia kemudian berkata pelan,
“Masih setengah jalan.”
Entah kepada siapa ia berbicara.
Mungkin kepada dirinya sendiri.
Mungkin kepada laut.
Mungkin kepada mereka yang masih berdiri di pantai.
Malam mulai turun.
Perahu semakin jauh.
Suara dayung tidak lagi terdengar jelas.
Hanya sesekali terlihat kilatan kecil ketika bilah dayung mengangkat air.
Lelaki tua berhenti sejenak.
Ia memandang ke arah laut yang mulai gelap.
Di belakang perahu ada pantai.
Di depan ada laut yang belum selesai.
Dan di antara keduanya,
banyak tangan masih memegang dayung.
Ia tersenyum tipis.
Sebab ia tahu,
perahu belum tentu sampai.
Tetapi juga belum tentu karam.
Perjalanan masih panjang.
Dan laut belum mengatakan apa-apa.
Bersambung...
-NN
Bagikan:

Desa Sabang
Kecamatan Dampelas
Kabupaten Donggala
Provinsi Sulawesi Tengah
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini