Logo

Desa Sabang

Kabupaten Donggala

Home

Infografis

Profil Desa

Listing

IDM

Berita

Belanja

PPID

Dipantai Tebamba, Laut Tak Pernah Menghitung

Dipantai Tebamba, Laut Tak Pernah Menghitung

Invalid Date

Ditulis oleh Administrator

Dilihat 70 kali

Dipantai Tebamba, Laut Tak Pernah Menghitung

Matahari mulai condong ke ujung tanjung.

Cahayanya masih menyentuh permukaan laut ketika Pantai Tebamba mulai sibuk.

Di bawah pohon buton dan ketapang, sebuah perahu ketinting sedang dipersiapkan.

Mesin diperiksa.

Tali dirapikan.

Wadah-wadah ikan diletakkan di dalam perahu.

Mereka tidak menunggu matahari benar-benar tenggelam.

Perjalanan harus dimulai sebelum senja selesai.

Beberapa orang berdiri di sisi perahu.

Yang lain mengambil posisi di belakang.

Tanpa aba-aba panjang, mereka mulai mendorong.

Satu tangan menekan lambung.

Tangan lain mendorong buritan.

Kaki-kaki menjejak pasir.

Perahu bergerak perlahan menuju air.

Maju.

Berhenti.

Didorong lagi.

Sampai lambungnya mulai terangkat oleh ombak kecil.

Ketika perahu telah cukup mengapung, mesin ketinting dinyalakan.

Breng... breng... breng...

Suara itu memecah sore.

Perahu bergerak meninggalkan Pantai Tebamba.

Orang-orang masih berdiri di tepian.

Mereka melihat perahu semakin jauh.

Di belakangnya, matahari terus turun.

Sampai akhirnya cahaya terakhirnya hilang di ujung tanjung.

Di laut, malam mulai mengambil tempat.

Perahu menuju rompong.

Tidak terlalu jauh.

Di sana ikan berkumpul.

Rompong menjadi tempat yang telah dikenal dari waktu ke waktu, tempat ikan-ikan datang dan terperangkap di dalamnya.

Mesin diperlambat.

Lampu dinyalakan.

Tangan-tangan mulai bekerja.

Ikan diambil dari rompong.

Diangkat.

Dipindahkan.

Dimasukkan ke dalam wadah.

Tidak ada yang tergesa-gesa.

Tidak lama kemudian pekerjaan selesai.

Wadah telah terisi.

Perahu kembali diarahkan menuju Pantai Tebamba.

Malam baru saja turun ketika suara mesin terdengar dari laut.

Breng... breng... breng...

Di pantai, beberapa orang keluar dari rumah.

Mereka melihat cahaya kecil bergerak mendekat.

Perahu pulang.

Tidak ada yang memanggil.

Tidak ada yang membagi tugas.

Mereka sudah tahu.

Beberapa orang turun ke air.

Tali dilempar.

Satu tangan menangkap.

Tangan yang lain menyusul.

Mereka menarik bersama-sama.

Yang lain mendorong dari belakang.

Air mengusap kaki.

Pasir terbenam di bawah telapak.

Perahu bergerak perlahan hingga akhirnya mencapai daratan.

Tak seorang pun bertanya apa yang akan mereka dapat.

Mereka membantu lebih dahulu.

Wadah ikan kemudian diturunkan.

Ada yang mengangkat.

Ada yang membawa.

Ada yang memilah.

Ada yang membantu.

Ikan berpindah dari perahu ke pantai.

Kemudian dari pantai ke rumah-rumah.

Sebagian dijual.

Sebagian dibawa pulang.

Sebagian diberikan.

Tidak semuanya kembali kepada tangan yang sama.

Tetapi mungkin memang demikian kehidupan bekerja.

Rezeki tidak selalu berhenti di tempat ia ditemukan.

Ia berpindah.

Seperti air.

Seperti angin.

Seperti kebaikan.

Di bawah pohon buton dan ketapang, seorang lelaki tua memperhatikan orang-orang yang sejak sore tadi membantu mendorong perahu.

Kini mereka membantu menariknya kembali.

Tidak semua menerima ikan.

Sebagian bahkan hanya pulang dengan kaki yang basah dan pakaian yang terkena air laut.

Tetapi tidak ada yang tampak menghitung kerugiannya.

Lelaki tua itu tersenyum.

Ia tahu, orang-orang itu memahami sesuatu yang sederhana.

Bahwa pertolongan tidak selalu harus kembali kepada orang yang sama.

Hari ini tangan kita mendorong perahu orang lain.

Besok mungkin tangan kita sendiri yang membutuhkan dorongan.

Hari ini seseorang memberi ikan.

Besok mungkin ia membutuhkan beras.

Hari ini seseorang membantu memperbaiki mesin.

Suatu hari mungkin ia membutuhkan tenaga untuk memperbaiki rumah.

Tidak ada yang tahu kapan keadaan akan berubah.

Sebab manusia tidak pernah benar-benar menguasai hari esok.

Yang kuat dapat menjadi lemah.

Yang memiliki dapat kehilangan.

Yang memberi dapat membutuhkan.

Yang menerima dapat menjadi pemberi.

Maka mereka tidak terlalu sibuk mencatat kebaikan.

Tidak ada buku utang.

Tidak ada hitungan.

Tidak ada tanda tangan.

Hanya ingatan bahwa seseorang pernah membantu.

Dan mungkin, suatu hari, ingatan itu cukup untuk membuat tangan kembali terulur.

Malam semakin dalam.

Perahu ketinting telah ditarik ke tempatnya.

Mesinnya diam.

Rompong kembali sunyi di tengah laut.

Pohon-pohon buton dan ketapang bergoyang perlahan.

Di kejauhan, ujung tanjung telah menjadi bayangan hitam.

Lelaki tua itu memandang laut.

Besok sore, matahari akan kembali bergerak ke tempat yang sama.

Perahu mungkin kembali berangkat.

Dan orang-orang mungkin kembali berkumpul.

Mereka akan kembali mendorong.

Bukan karena mereka tahu apa yang akan mereka terima.

Tetapi karena ada sesuatu yang lebih tua daripada perhitungan:

kebiasaan untuk saling membantu.

Sebab sebuah perahu memang dapat membawa seorang nelayan ke laut.

Tetapi sebuah perahu tidak dapat mendorong dirinya sendiri ke air.

Ia membutuhkan tangan.

Dan ketika pulang, ia kembali membutuhkan tangan.

Begitu pula manusia.

Kita mungkin mampu pergi dengan kekuatan sendiri.

Tetapi selalu ada saat ketika kita membutuhkan seseorang untuk membantu kita pulang.

Matahari telah tenggelam di ujung tanjung.

Laut menjadi gelap.

Perahu terdiam di pantai.

Dan di antara suara ombak yang datang lalu kembali, Pantai Tebamba menyimpan sebuah kebenaran sederhana:

manusia tidak menjadi kuat karena mampu hidup sendiri.

Manusia menjadi kuat karena ketika ia membutuhkan, masih ada tangan yang bersedia datang—tanpa lebih dahulu bertanya apa balasannya.

 ---- NN

Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Desa Sabang

Kecamatan Dampelas

Kabupaten Donggala

Provinsi Sulawesi Tengah

© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia